Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Kisah Istriku Suka dijakan Istri Bersama 2

 Topoin.com - “Hmm..” aku menggeliat ketika kurasakan seseorang membelai wajahku.

Kubuka mata dan kulihat Ravi tersenyum ke arahku. Kubalas tersenyum dan melihat ke arah jam weker di samping tempat tidurku, sudah pukul 06:15 gumamku dalam hati. Kulihat Ravi sedang mengenakan celana panjangnya, dia sudah kelihatan rapih walau mungkin pagi itu dia hanya mencuci wajahnya saja.
“Bang, aku pulang dulu yah..? Boleh nggak lewat kamar atas Bang..? Soalnya biar nggak ketahuan pulang pagi nih..!” katanya ringan.
“Oke.., tunggu sebentar.” jawabku sambil mengenakan pakaianku.
Kulihat dia tersenyum ke arah batang kejantananku yang pagi itu sudah berdiri dengan kokohnya. Aku hanya tersenyum juga ke arah dia, dan aku berjalan ke lantai dua untuk membukakan pintu ke arah balkon.

“Thanks, Bang..!” ucapnya sambil mencium pipiku.
Setelah pintu kukunci kembali, aku bersiap untuk mandi, karena pagi itu harus ke kantor. Kulihat tempat tidurku yang berantakan dan jelas terlihat noda-noda bekas air mani kami semalam yang sudah agak mengering. Aku sempatkan mengganti seprei dan sarung bantal dan kuminta Rahmat untuk mencucinya.

“Pak Donny, ini ada beberapa surat yang harus Bapak tanda tangani. Diantaranya surat kesediaan membawa fasilitas mobil dan laptop setelah jam kerja selesai.” jelas Sri sambil menyodorkan dan membuka map berisi surat yang harus kutanda tangani.
Setelah kuperiksa dan kutanda tangani map itu, kukembalikan kepada Sri. Wah.., lumayan, gumamku dalam hati, berarti aku tidak perlu repot lagi memikirkan kendaraan jika aku ada keperluan mendesak.

Pukul 17:45 ketika aku melirik Bvlgari, jam tangan yang melilit di lengan kiriku. Kubunyikan klakson, Rahmat tergesa-gesa membuka gerbang dan pintu garasi. Kuparkirkan “Taruna” metalik fasilitas yang kudapat dari kantor dengan hati-hati. Ketika kuberjalan menuju pintu, kulihat Pak Raju, Bu Rani, Raja dan Ravi sedang istirahat sore di teras rumah mereka. Kusempatkan menyapa mereka, Pak Raju bangkit berdiri dan mendatangiku.
“Wah.., sudah mendapat mobil nih rupanya Nak Donny.”
“Iya nih, Pak Raja, fasilitas dari kantor.” jawabku.
Setelah ngobrol beberapa saat, aku pamit kepada mereka, Ravi hanya tersenyum manis ke arahku sambil mengedipkan matanya. Rupanya dia belum mau keakraban kami diketahui keluarganya.



Setelah mandi dan merapihkan diri, aku berniat menggunakan laptop untuk membuat laporan di ruang kerjaku. Setelah kuperiksa, ternyata laptop tersebut dilengkapi fasilitas fax modem, sehingga dapat dipergunakan untuk akses ke internet. Kuputuskan membuat laporan esok hari di kantor saja, kupersiapkan keperluan akses. Dan setelah kucoba, ternyata berhasil untuk akses melalui Telkomnet. Kubuka situs-situs yang kerap kukunjungi, tentu saja situs gay yang aku hapal betul alamat homepage-nya. Lanjut baca!

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

Kisah Istriku Suka dijakan Istri Bersama 1

 Aopok.com - Betapa bahagianya aku, saat pertama turun dari pesawat di Bandara Tabing (Padang). Akhirnya keinginanku untuk berkarir di kota ini menjadi kenyataan, setelah tiga tahun terkurung dalam gemerlapnya kota Jakarta. Tiga tahun yang lalu setelah aku tamat dari salah satu PTS di kota Padang, aku mendapatkan pekerjaan di salah satu Bank swasta papan atas di Jakarta. Dan setelahberjuang untuk mendapatkan posisi di daerah, akhirnya di usiaku yang sekarang menginjak 28 tahun, aku dapatkan juga. Aku ditempatkan di bagian Marketing Executive di cabang Padang.


“Donny..” ucapku saat memperkenalkan diri pada pemilik rumah kontrakan yang disediakan oleh perusahaan.
Saat itu aku diantar oleh HR dari kantorku, dan pemilik rumah adalah sepasang suami-isteri berwajah ramah dan bijaksana keturunan India yang telah berumur diatas 50 tahun. Pak Raju dan Bu Rani, demikian nama mereka. Mereka tinggal tepat bersebelahan dengan rumah yang mereka kontrakkan. Mereka memiliki empat orang anak, Rada, Ratu, Raja dan Ravi. Saat berkenalan denganmereka, aku seperti sedang berada dalam film India yang bintangnya cantik serta tampan. Yang menjadi perhatianku adalah Ravi, tampannya seperti Salman Khan yang filmnya sedang ngetop di bioskop. Ravi adalah mahasiswa tingkat dua kedokteran PTS di Padang. Setelah berkenalan dan santap siang bersama Pak Raju dan Bu Rani serta Sri, aku diantar berkeliling rumah yang akan kutempati. Rumah bertingkat dua tersebut seperti rumah kopel, hanya dipisahkan oleh satu dinding, halaman terpisah oleh pagar dan masing-masing rumah memilki satu gerbang. Tetapi ternyata di lantai dua balkonnya menyatu dan kamar di lantai dua rumahku bersebelahan dengan kamar Raja dan Ravi.

Beberapa hari tinggal di kota Padang, aku mendapatkan ketenanganku kembali. Tiga tahun berada di Jakarta membuatku letih, karena aku selalu berjuang untuk tidak terjatuh kedalam dekapan lelaki yang sebenarnya kuinginkan. Ya.., setelah menyadari diriku gay, aku selalu berusaha untuk tidak terseret kedalam pergaulan itu, walau aku selalu mengagumi sosok lelaki setiap kali melampiaskan hasrat seksualku jika beronani.



Dalam keseharianku, jika ada waktu luang, aku membenahi interior rumah seperti yang kuinginkan dibantu Rahmat pembantu yang disediakan Pak Raju. Rahmat tinggal bersamaku, dia yang mengerjakan seluruh pekerjaan rumah, sehingga aku dapat lebih tenang dan berkonsentrasi dalam bekerja. Disuatu hari minggu, aku berniat membersihkan kamar di lantai dua untuk kujadikanruang olah raga. Aku minta Rahmat membersihkan dan mengangkat koleksi barbelku ke kamar itu. Lanjut baca!

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

Viral Tiap Malam Istriku Di Pinjam Teman 3

 Tradingan.com - Tahun demi tahun berlalu dengan cepat. Anak Hadi kini sudah berjumlah tiga orang. Satu laki-laki, duduk di bangku SMP, dan dua perempuan, masih di bangku SD. Hadi sangat mencintai istrinya tapi kecantikan istrinya mulai pudar digerogoti usia. Wajahnya yang cantik mulai dipenuhi kerutan dan lemak mulai menduduki setiap wilayah seksi yang dulu pernah dikagumi Hadi. Sifat menjengkelkan dari seorang wanita mulai ditunjukkan istrinya. Tiap kali Hadi ingin melampiaskan nafsunya, istrinya selalu menolaknya.


Kalau pun diizinkan, istrinya tak lagi bergairah seperti saat malam pertama mereka. Perlahan, Hadi mulai merasa telantar. Sebagai seorang pria, dia punya kebutuhan yang tak dapat ditunda. Percekcokan demi percekcokan pun timbul. Bahtera rumah tangga yang dulu damai kini berubah menjadi medan perang. Padahal pangkal masalahnya sederhana sekali: seks. Saat itulah, Hadi mulai merindukan kehidupan gay yang dulu dia jalani dengan bebas.

Dengan alasan bahwa dia harus lembur, Hadi mulai bertualang dengan banyak pemuda gay. Pemuda-pemuda itu mengharapkan figur bapak-bapak sementara Hadi mendambakan tubuh laki-laki yang masih segar. Tak terhitung lagi berapa banyak pantat yang telah Hadi rasakan. Tanpa terkendali, Hadi tenggelam dalam gejolak nafsu homoseksual yang sangat dia rindukan. Tanpa merasa berdosa, Hadi menyodomi setiap pemuda yang mau bertekuk lutut di hadapannya. Terkadang kenangan bersama Andi timbul kembali saat Hadi menikmati kehangatan lubang pelepasan dari pemuda-pemuda yang sedang disetubuhinya, namun Hadi tidak ingin memikirkannya. Maka mulailah Hadi menjalani kehidupan ganda, sebagai pria berkeluarga dan juga sebagai pria homoseksual.

Namun, suatu ketika, tiba-tiba seorang pria tua bertamu ke rumahnya. Ketika Hadi menemuinya, dia terkejut sekali. Pria tua itu adalah ayah Andi. Dua puluh tahun telah lewat. Ayah Andi nampak jauh lebih tua dari ingatan Hadi.

“Om, apa kabar? Sudah lama tidak bertemu. Ada apa Om mencariku?” tanya Hadi dengan ramah.

Bagaimana pun juga, dulu dia sering bertamu ke rumah Andi. Dengan penuh hromat, Hadi mempersilahkannya untuk duduk, tapi pria tua itu memilih untuk berdiri saja. Wajah ayah Andi menyiratkan duka yang mendalam.

“Hadi, Andi sudah meninggal,” isaknya.
“Apa?!” Petir serasa menyambar di siang hari bolong.

Sekujur tubuhnya melemas, hampir terjatuh. Entah kenapa, tiba-tiba hatinya terasa beku. Memang, selama bertahun-tahun, dia telah membunuh cintanya pada Andi. Namun, tak disangka, Hadi sangat terpukul sangat mengetahui bahwa Andi telah tiada. Semua terasa seperti mimpi buruk yang akan hilang jika saja dia dapat terbangun. Namun ini bukan mimpi. Ini nyata.

“Dia bunuh diri,” lanjut ayah Andi, tetap menangis terisak-isak.
“Dia meninggalkan surat untukmu.”



Setelah menyerahkan surat itu, pria tua itu pun pergi, tak ingin Hadi melihatnya menangis terus. Maka tinggallah Hadi seorang diri, terkejut dan shok. Surat itu tergenggam di tangannya tanpa ada niat untuk membukanya. Kebekuan menyelimuti hatinya. Seribu pertanyaan mengganggu pikirannya. Bagaimana mungkin Andi sanggup menghabisi dirinya sendiri. Hadi masih ingat sifat Andi saat dia pertama kali bertemu dengannya. Pemuda itu sangat baik, ramah meskipun agak penakut dan tidak mandiri. Rasanya tak mungkin Andi dapat berbuat hal senekad itu. Tapi Andi memang telah tiada. Yang tersisa hanyalah kenangan-kenangan manis akan dirinya. Lanjut baca!

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

Viral Tiap Malam Istriku Di Pinjam Teman 2

 Biodataviral.com - Tenggelam dalam api asmara dan nafsu, keduanya bergumul dan saling memuaskan. Desahan dan erangan keduanya memenuhi kamar itu, namun ditenggelamkan oleh hingar bingar musik yang telah disetel terlebih dahulu oleh Hadi. Keringat bercucuran di mana-mana seiring dengan semakin panasnya permainan seks mereka. Sebuah erangan panjang mengakhiri semuanya saat Hadi menyemprotkan cairan kelaki-lakiannya. Lemas terkulai, keduanya saling berpelukan sambil mengumpulkan energi mereka kembali.


Hari-hari berikut diisi dengan pelukan dan ciuman mesra meskipun Hadi tidak bisa datang setiap hari. Tak jarang, Hadi mengajak Andi keliling-keliling ke mall. Kebersamaan semacam ini malah membuat Andi semakin lengket pada Hadi. Dalam hatinya, Andi bersumpah akan melakukan apapun asalkan Hadi bahagia. Dalam sebuah kesempatan, Hadi mengajaknya window-shopping ke toko kaset. Di sana, dia sibuk mencari kaset dari artis kesukaannya. Andi tentu saja penasaran sebab Hadi seringkali menyebutkan betapa dia ingin memiliki lagu itu.

“Lagu itu populer pas saya masih SMA. Semacam lagu nostalgia. Send Me A Lover, yang nyanyi Taylor Dayne. Aku penasaran banget. Kok nggak ada toko kaset yang jual lagu itu,” jelas Hadi panjang lebar.

Andi tak tahu apa arti sebenarnya dari lagu itu bagi Hadi. Bisa saja itu lagu nostalgia saat dia pacaran di SMA dulu. Tapi Andi tidak mau ambil pusing. Masa lalu Hadi tidak penting. Yang terpenting adalah Hadi mencintainya Maka tanpa Hadi tahu, Andi memulai perburuannya. Tapi ternyata benar, tidak ada satu toko pun yang menjual lagu itu. Namun, untung saja ada internet. Dari sanalah, Andi berhasil mendapatkan lagu itu, meskipun yang didapatnya adalah versi Celine Dion. Setelah disimpan di dalam CD kecil berbentuk bintang, lagu itu siap dijadikan kejutan. Hadi memang terkejut dan nampak senang sekali. Tapi saat Andi menyinggung tentang cinta, Hadi dengan cepat menepis topik itu.

*****

Sebuah desahan panjang lepas dari bibir Hadi, sedih memikirkan kenangan indah bersama Andi dulu. Andi memang tidak terlalu lihai dalam bercinta, tapi Hadi tetap menyukainya sebab Andi selalu berusaha keras untuk memuaskannya. Terbayang kembali nikmatanya hisapan mulut Andi saat dia mengoral batang kejantanan Hadi. Dan juga kehangatan badannya saat hadi memasukinya dari belakang.




“Aahh..” desah Hadi.

Di saat-saat normal, batang kejantanan Hadi pasti langsung bangkit tiap kali memikirkan hal-hal mesum. Tapi kali ini, batangnya tetap lemas. Rasa sedih dan duka telah mematikan nafsu birahinya untuk sementara waktu. Tangisan seorang anak laki-laki kecil yang sedang merengek ibunya untuk dibelikan balon sesat memecah lamunan Hadi. Dari tempat duduknya, Hadi melihat ibu muda itu merogoh dompetnya dan mengeluarkan selembar uang ribuan kepada penjual balon. Mata Hadi terus saja memandangi anak kecil itu yang paling tidak berusia sekitar 6 tahun. Seorang anak dan keluarga yang normal. Itulah yang mengakibatkan Hadi tega melepas Andi.. Lanjut baca!

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

Viral Tiap Malam Istriku Di Pinjam Teman 1

 Aopok.com - Daun-daun kuning berguguran tertiup angin sore, jatuh berserakan di atas tanah. Sinar matahari bersinar sejuk dari balik dedaunan. Sesosok figur pria berusia sekitar lima puluhan duduk seorang diri di bangku taman, matanya menatap kosong ke depan. Dari pakaian yang rapi dan mahal jelas memperlihatkan bahwa orang itu cukup kaya. Tapi kesedihan yang menggantung di wajahnya akan membuat setiap orang yang melihatnya turut merasa pilu. Meskipun suasana taman itu agak ramai dengan pengunjung, hati pria itu terasa sepi. Rambut keabuan yang mulai memenuhi seluruh kepalanya tidak membuat ketampanannya sirna. Beberapa kerutan akibat usia tua nampak menghiasi wajahnya.


Tanpa disadarinya, setetes air mata menetes jatuh dan membasahi tangannya. Di telapak tangannya, tergenggam erat sebuah foto hitam putih berukuran 4×6. Foto itu, meski sudah mulai berwarna kekuningan termakan waktu, menyimpan sejuta kenangan manis dari masa lalunya, kenangan yang takkan pernah mungkin terulang kembali.

“Maafkan aku, Andi,” bisiknya dengan lirih.

Matanya terpaku pada foto di tangannya. Seorang pemuda manis tersenyum balik padanya. Senyumannya begitu manis dan menggemaskan, membuatnya nampak lugu tapi sekaligus menarik hati.

“Andi..” bisiknya lagi, jari telunjuknya yang kasar bergerak menuruni foto wajah pemuda yang dulu pernah menjadi kekasihnya.

Sejuta penyesalan takkan mampu membawa Andi kembali lagi. Semua telah terlambat. Air mata kembali berlinang saat pria tua itu menangis terisak-isak. Betapa dia merindukan saat-saat indah bersama Andi. Pria tua yang bernama Hadi itu kemudian menyeka air matanya sambil berusaha menenangkan dirinya. Namun, kesedihan itu sulit untuk dihapus. Mungkin selama sisa hidupnya, Hadi akan terus dibayangi rasa penyesalan dan kesedihan yang mendalam.



Beberapa minggu yang lalu, Hadi menghadiri pemakaman mantan kekasihnya itu. Hidup Andi harus berakhir saat dia menghabisi dirinya dengan sebotol pil tidur. Dalam 44 tahun hidupnya, pria malang itu belum pernah menemukan kebahagian sejati dari cinta seorang pria. Sebagai seorang pria gay, Andi sungguh tidak beruntung sebab tidak ada seorang pria gay pun yang sudi menghabiskan hidupnya di sisi Andi. Mereka semua lebih memilih untuk hidup di balik topeng pria heteroseksual, termasuk Hadi. Lanjut baca!

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

Viral Tukar Istri di Rumah Tanteku

 Biodataviral.com - Aku sedang berlibur di kota Bandung, nginap dirumah Om ku adik mama yang paling kecil. Mereka memang 7 bersaudara dan mamaku yang paling tua, aku saat itu berumur 20 tahun dan omku berumur 35 tahun. Istri om ku, tante Ida berumur 27 tahun, orangnya sangat cantik dan mempunyai tubuh yang mungil tapi padat. Pantatnya bebar-benar montok dengan pinggang yang ramping dan perut yang datar, maklum mereka belum mempunyai anak, biarpun sudah kawin hampir 3 tahun. Akan tetapi tante Ida yang cantik itu, orangnya sangat judes, dia tidak memandang mata keluargaku, maklum kami hanya biasa-biasa saja, sedangkan tante Ida datang dari keluarga yang sangat kaya di kota Surabaya, dia hanya 2 bersaudara dan Ida adik perempuannya yang berumur 22 tahun, masih kuliah di ITB dan tinggal dirumah om dan tante Ida di Bandung.


Selama aku berada dirumah om ku ini, hampir setiap hari tante Ida mengomel saja, karena dia memang sangat benci kalau aku menginap dirumah mereka. Disamping aku memang termasuk anak yang bandel, biarpun secara postur tubuh, aku sudah kelihatan sangat dewasa, karena tinggi badanku 175 cm dengan tubuh yang berotot, tante Ida curiga saja dan menganggap aku sering menerima duit dari om ku, pada hal sangat jarang om ku memberi aku duit.

Saat ini aku nginap di rumah mereka, sebenarnya hanya terpaksa saja, karena aku sedang berlibur di Bandung dan ibuku memberitahukan kepada om ku yang memaksa aku tinggal dirumahnya. Hari ini entah mengapa aku merasa suntuk banget sendirian, kemarin sore sebelum om ku pulang dari kantor, tante Ida marah-marah dan menunjukan muka cemberut terhadap saya. Saat itu rumah berada dalam keadaan sepi, om sudah pergi kekantor, Mbak Ani adik tante Ida sedang pergi kuliah, Bik Suti lagi pergi ke pasar, dan tante Ida katanya mau pergi ke arisan. Tadi sebelum pergi dengan nada yang setengah membentak, tante Ida menyuruh saya menjaga rumah.

“Dari pada BT sendiri, mending nonton BF aja di kamar,” pikirku.

TV mulai kunyalakan, kuambil CD porno yang kemarin kupinjam ditempat persewahan dekat rumah, adegan-adegan panas nampak di layar. Mendengar desahan-desahan artis BF yang cantik dan bahenol tersebut membuat aku terangsang. Dengan lincahnya tanganku melucuti celana beserta CD-ku sendiri. Burungku yang sedari tadi tegak mengacung kukocok perlahan. Film yang kutonton itu cukup panas, sehingga aku menjadi semakin bergairah. Kutanggalkan pakaian yang masih melekat, akhirnya tubuhku tanpa ada penutup sekalipun. Kocokan tanganku semakin cepat seiring dengan makin panasnya adegan yang kutonton. Kurasakan ada getaran dalam penisku yang ingin meyeruak keluar. Aku mau orgasme, tiba-tiba…


“Anton.. apa yang kamu lakukan!!” teriak sebuah suara yang aku kenal.

“Ooooohh… Tante…?!” aku kaget setengah mati dan sangat bingung sekali saat itu. Tak kusangka tante Ida yang katanya mau pergi arisan bisa kembali secepat itu. Tanpa sadar aku bangkit berdiri dan kudekati tante Ida yang cantik tapi judes itu, yang masih berdiri dalam keadaan kaget dengan mata membelalak melihat keadaanku yang telanjang bulat dengan penisku yang panjang dan besar dalam keadaan tegang itu. Tiba-tiba entah setan mana yang mendorongku, secara refleks saja aku menyergap dan mendekap tubuh tante Ida yang mungil padat itu. Badannya yang mungil dan tingginya yang hanya sampai sebahu dari ku, ku bekap dengan kuat dan kutarik agak keatas, Lanjut baca!

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

Kisah Seks Liat Kekasihku Diperkosa Polisi

 Tradingan.com - Saya pertama kenal Vira ketika melihatnya menjadi model cover di sebuah majalah di Jakarta, kemudian ia juga menjadi bintang sinetron Abad 21. Vira berumur 17 tahun, cantik, kulitnya putih mulus, ramah dan yang paling menarik perhatian orang-orang adalah buah dadanya yang bundar dan padat berisi. Semua orang yang menatap Vira pandangannya akan langsung tertarik ke arah buah dadanya yang membusung. Tidak terlalu besar memang, tapi sangat proporsional dengan tubuh dan wajah Vira. Saya berkenalan dengannya, pertama melalui surat kemudian bertemu, sesekali menelepon dirinya. Lama-kelamaan kita semakin sering bertemu dan percakapan yang ada semakin menjurus ke hal-hal yang pribadi. Akhirnya saya memberanikan diri untuk mengajaknya keluar makan malam.

Suatu hari saya memberanikan diri untuk mengajaknya dan ternyata Vira senang sekali mendengar ajakan saya, dan langsung setuju. Saya gelisah sekali menunggu pada saat menjemput Vira di rumahnya.


Setelah pulang kerja dan berganti pakaian saya menjemput Vira, untuk kemudian makan malam di sebuah restoran. Di sana kami bercakap-cakap panjang lebar, setelah itu dilanjutkan sebuah diskotik untuk sedikit menggoyangkan tubuh dan minum. Di tengah-tengah percakapan di diskotik, Vira mengajak saya untuk kembali ke rumahnya dan melanjutkan sisa malam itu di rumahnya. Bagaimana saya bisa menolak tawaran itu?

Sepanjang perjalanan pulang Vira berkata bahwa ia belum pernah mengalami hari yang menyenangkan seperti yang baru ia alami malam itu, dan ia juga berkata, di rumah nanti giliran dirinya yang akan membuat diri saya tidak akan melupakan malam ini.

Saya begitu bergairah dan berhasrat untuk lekas-lekas sampai ke rumah Vira, ketika tanpa sadar saya mengendarai mobil melebihi batas maksimal kecepatan di jalan. Tiba-tiba saya tersadar ketika di sebelah kanan sudah ada mobil Polantas yang berusaha menghentikan mobil saya. Saya meminggirkan mobil di tempat parkir sebuah toko dan menunggu Polantas tadi mendekati mobil kami. Ia bertanya hendak ke mana kami sampai-sampai kami membawa mobil itu melebihi batas kecepatan. Rupanya alasan saya tidak masuk akal sehingga Polantas tadi meminta STNK dan SIM saya.

Setelah melihat surat-surat itu Polantas itu menjengukkan kepalanya ke dalam mobil kami dan lama sekali mengamati Vira yang duduk terdiam. “Anda harus meninggalkan mobil Anda di sini dan ikut saya ke kantor”, perintah Polantas tadi. Akhirnya sepuluh menit kemudian kami sampai ke sebuah kantor polisi yang terpencil di pinggir kota.

Waktu itu sudah lewat pukul 11 malam, dan dalam kantor polisi itu tidak terdapat siapa pun kecuali seorang Sersan yang bertugas jaga dan Polantas yang membawa kami. Ketika kami masuk, Sersan itu memandangi tubuh Vira dari bawah hingga ke atas, kelihatan sekali ia menyukai Vira. Kami dimasukkan ke dalam sel terpisah, saling berseberangan. Wajib baca!

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

Viral Cerita Anal Sex Saat Bertemu di Jogja 4

 Topoin.com - Siang ini aku betul-betul pasrah pada dunia. Sekiranya akan terjadi kiamat pun, aku sepertinya akan siap menghadapinya. Tanganku terentang pasrah dan sesekali mencari pegangan. Tapi yang kutemukan hanya lantai licin yang basah oleh keringat kami. Lalu ketika kutemukan sebuah ‘pegangan’ dari bagian tubuhku sendiri, aku pun akhirnya meloco milikku sendiri meningkahi nikmatnya sodokan-sodokan yang dibuat Om-ku dari depan.


Tubuhku beberapa kali sempat menggelinjang hebat merasakan rangsangan yang datang dari bagian depan dan bawah selangkanganku. Tapi Om Wijoyo sama sekali tidak berusaha menahan liarnya gerakan tubuhku. Dibiarkannya aku menggeliat-geliat di atas lantai yang telah licin oleh keringat, sementara ia sendiri terus asyik berpacu laksana kuda jantan lepas kendali. Sesekali terdengar suara kecipak yang ramai. Aku tak tahu apakah itu suara kecipak punggung basahku yang beradu dengan lantai licin ataukah kecipak pahanya ketika membentur-bentur bukit pantatku.
Berkali-kali aku merintihkan nama Om-ku, tapi ia seperti tak peduli lagi. Karena aku juga memang tak bermaksud memanggilnya. Ia pun beberapa kali menyebut-nyebut namaku dalam suara yang terdengar seperti desahan. Kelihatan sekali ia sangat kenikmatan. Sesekali bisa kurasakan tubuhnya bergetar menahan desakan birahinya.
Lantai benar-benar telah basah oleh peluh kami berdua. Rambut Om Wi’ yang ikal tampak menjuntai basah dan sebagian jatuh ke keningnya. Air tampak menetes-netes dari ujung kumisnya, menimpa perutku yang juga sudah basah oleh keringatku sendiri. Lalu di luar dugaanku, Om Wi’ merebut batang kemaluanku yang tengah kukocok dan kini gantian ia yang mengonani diriku. Aku tersentak oleh betotannya. Gerakan tangannya menjadi lebih liar dan kasar, tapi rasa nikmat yang diberikan lebih sensasional.
“Ooohh.. Oohh..” berkali-kali aku mengeluarkan suara-suara yang tak jelas maknanya.
Aku tak mengerti mengapa rasa nikmat itu sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata. Rasanya bahasa tubuh dan suara mulut kami berdua lebih bisa mengekspresikannya. Om Wi’ sendiri terus menggeram dan mengerang bagai singa liar tengah mengawini betinanya. Matanya yang biasanya teduh itu kini tampak memicing buas.
Sesaat ruang tengah guest house itu menjadi arena lenguhan dan erangan tertahan yang keluar dari mulut kami berdua. Dan lenguhanku akhirnya berujung pada desahan panjang ketika aku tak bisa membendung lagi muncratnya air kenikmatan dari ujung kepala kemaluanku. Memancar, muncrat dan meleleh, membasahi tangan Om Wi’ yang terus saja mengurut-urut batang milikku. Sesaat kemudian tangannya menggenggam bagian kepala kemaluanku yang sedang dalam kondisi sangat sensitif itu, kemudian meremasnya dengan lembut. Sentuhan terakhirnya itu membuat tubuhku bergidik hebat, tersengal dan aku memohon-mohon dia untuk menyudahi remasan tangannya itu.





Om Wijoyo lalu melepas tangannya dan mencabut miliknya sendiri untuk kemudian dikocok-kocok di atas perutku. Tak beberapa lama kemudian ia mulai menggeram tak karuan. Dalam posisi berlutut sambil mengocok seperti itu pantatnya tampak maju mundur dan mengejang-ngejang seolah menahan sesuatu yang ingin keluar.
Hingga akhirnya suaranya makin meracau dan berujung pada sebuah teriakan tertahan ketika semburan cairan putih kental beberapa kali menyemprot ke arah dada dan perutku. Sejenak kubiarkan ia tenggelam dalam puncak syahwatnya sebelum akhirnya tanganku, Lanjut baca!

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

Viral Cerita Anal Sex Saat Bertemu di Jogja 3

 Tradingan.com - Posisi kaki Om Wi’ kini menjadi lebih bebas. Dibentangkannya lebar-lebar pahanya yang penuh bulu itu. Seolah memberiku kesempatan untuk ‘melahap’nya habis-habisan. Tangannya kemudian menekan kepalaku untuk lebih menelusup ke bawah, ke wilayah kantung pelirnya. Tapi aku agak kesulitan karena kepalaku terbentur batang kemudi. Dan Om Wi’ pun kemudian dengan sigap agak menyandarkan posisi duduknya untuk memberiku ruang, sehingga kepalaku kini lebih leluasa menjelajahi selangkangannya. Maka kujilati apa yang bisa kujilat. Kukerahkan bibir, lidah dan hidungku untuk menelusuri setiap daging dan bulu yang ada disitu. Aroma khas yang tercium membuatku makin semangat bermain-main di daerah itu.


“Hend.. Hend..,” bisik Om Wi’ agak keras memanggil-manggil namaku.
Semula aku pikir ia tengah mengekspresikan rasa ‘keenakan’, tapi ternyata ia memintaku untuk berhenti karena kami sudah sampai ke tujuan. Pelan-pelan Om Wi’ menghentikan mobilnya dan ketika kuangkat kepalaku, di depan terlihat sebuah kompleks bangunan mirip resort.
“Itu mess perusahaan,” katanya menjelaskan sambil tangannya sibuk memakai kembali celana pendek bermudanya. Celana dalamnya ia biarkan teronggok di bawah sebelum ia pungut dan diselipkan ke saku celananya.
“Kok ‘CD’-nya nggak dipakai?” kataku sambil ketawa keheranan.
“Nanti juga dicopot ‘kan?” jawabnya kalem.
Dasar! umpatku dalam hati. Tentu saja pikiranku jadi ‘kemana-mana’ mendengar kalimatnya itu.
Kami lalu turun dari mobil dan berjalan ke arah pos penjagaan. Kelihatan sekali Om Wijoyo sudah kenal dan dikenal baik oleh para penjaga mess di sini. Aku tak begitu heran, mengingat jabatan Om-ku cukup baik di perusahaan tempat ia bekerja.
“Ini kenalin, Hendro, keponakan saya dari Jakarta,” kata Om Wi’ sambil memperkenalkan aku kepada tiga orang petugas security di situ.
“Mau menginap berapa malam Pak?” tanya salah seorang kepada Om Wi’.
“Terserah dia, mau berapa malam,” sahut Om Wi’ sambil menunjuk ke arahku yang kebingungan.
“Cuma semalam saja kok Pak,” cepat-cepat Om Wi’ melanjutkan seolah meralat guyonannya.
“Monggo, silakan,” kata salah seorang petugas mess sesaat kemudian setelah mengambil kunci dan mengantar kami ke salah satu guest house yang terbaik yang ada di situ.
“Om, emang kita mau nginap? Kan kita nggak bawa pakaian,” kataku begitu sampai di ruang tengah guest house dan petugas yang mengantar kami sudah berlalu.
“Kamu serius amat sih?” balasnya sambil mendekatiku.”Lagian kita memang tidak perlu pakai pakaian..”
Belum sempat aku menanggapi kalimatnya, tiba-tiba ia sudah menarik tubuhku dalam pelukannya dan menciumku dengan gemas. Gerayangan tangannya langsung kemana-mana. Dan sebelum akhirnya kami berdua tergeletak di lantai ruang tengah, ia telah melolosi seluruh pakaianku dan pakaiannya sendiri.
Tubuh gempalnya langsung menindih. Dan kami pun segera bergelut dengan penuh gairah di lantai guest house yang cukup dingin itu. Beberapa kali kami sempat bergantian posisi, saling tekan dan beradu ‘pedang’ disertai dengusan nafas yang makin lama rasanya makin sesak karena desakan birahi.




Beberapa kali kurasakan ketika aku berada di bawah dan mengepit pinggangnya, Om Wi’ berusaha mengarahkan ‘moncong rudal’nya ke celah pantatku diiringi dengan sodokan-sodokan ringan. Tampaknya ia ingin mengingatkanku bahwa ada satu ‘pelajaran’ lagi yang aku belum lulus menjalaninya (baca “Tamu dari Yogya”).
“Jadi Hend..?” tanyanya sambil menatapku tajam ketika ia mulai melakukan gerakan-gerakan itu lagi.
Aku diam tak menjawab. Aku bukannya ragu, karena pengalaman pertamaku dengannya dulu sempat menimbulkan rasa nyeri. Tapi aku diam karena sedang mencoba menikmati sodokannya yang nakal di bawah sana. Rasanya geli, serasa dibelai-belai.
“Hend..,” kembali suaranya terdengar, setengah berbisik. Lanjut baca!

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

Viral Kisah Anal Sex Saat Bertemu di Jogja 2

 Aopok.com - Entah bagaimana caranya, tiba-tiba kedua kakiku sudah terangkat dan pahaku mengepit pinggulnya. Sementara kedua tangannya berusaha menyangga tubuhku agar tak jatuh dan merosot dari dinding. Dalam posisi begini desakannya kurasakan semakin liar. Terasa sekali sodokan-sodokan batangnya di sela-sela garis pantatku. Rasanya geli dan membuat daerah sekitar liang pelepasanku itu seperti ‘meleleh’ karena membasah.


Sementara batang kemaluanku terjepit di antara perutku dan perutnya. Tergesek-gesek bulu yang ada di situ. Dalam posisi digendong seperti itu, aku hanya bisa tengadah merasakan itu semua. Sementara mulutnya sibuk mencumbui daerah di sekitar leherku.
Waktu aku kecil, Om Wijoyo memang seringkali menggendong atau membopongku dengan penuh kasih sayang. Tapi kali ini gendongannya jauh berbeda sekali dengan yang pernah ia lakukan. Mungkin ia masih melakukannya dengan penuh kasih sayang. Tapi aku merasakannya lebih dari itu. Gendongan dan dekapannya terasa sekali penuh dengan dorongan nafsu dan hasrat birahi yang mengental dan harus segera dicairkan. Dan aku sebagai keponakannya menurut saja pagi-pagi diajak ‘main gendong-gendongan’ seperti ini.
Cengkeraman tangannya yang kuat dan desakan tubuhnya membuat aku makin terpepet ke tembok. Tubuh kami seolah lengket dan punggungku yang berkeringat terasa ketat menempel ke dinding. Aku berusaha agar tak jatuh merosot dengan mengetatkan belitan kedua kakiku pada pinggangnya. Apalagi ia sering melakukan sentakan dan sodokan dari bawah yang membuat tubuhku sesekali terguncang-guncang ke atas.
Orgasme kami akhirnya harus datang terlalu cepat, saling menyusul dan tak terkendali. Aku mengerang dengan suara yang cukup keras meningkahi suaranya yang mendesah-desah seperti orang tengah kesakitan. Aku dan Om Wi’ sepertinya tak peduli sekali pun Pak No atau orang lain akan mendengar hiruk-pikuk meledaknya puncak permainan seks ini. Pagi ini kami memang tidak sedang bermain cinta. Ini benar-benar permainan seks. Sekedar menyalurkan dorongan nafsu syahwat saja. Tapi aku tak menyesali. Karena aku pun sudah lama memendam tumpukan birahi ini padanya.
Tak sampai semenit kemudian, dengan sisa tenaga yang ada dan tubuh masih dalam posisi saling membelit, Om Wi’ menggendong tubuhku ke arah ranjang dan menjatuhkan tubuh kami ke sana. Tubuh gempalnya sesaat sempat menindihku sebelum ia berguling ke samping.
“Uhh.. Cepet banget..” katanya beberapa saat kemudian sambil nyengir.
Badannya berbaring miring di sampingku. Tangannya bertelekan ke dagu dan menatapku sayu. Keningnya masih berpeluh dan kudengar nafasnya masih agak ngos-ngosan. Aku tetap diam telentang di sampingnya, tak menanggapi ucapannya.
“Kok diam?” tangannya menyentuh ujung hidungku yang basah oleh keringat.
“Ehmm..,” aku malas untuk bicara, masih terbawa oleh sisa-sisa kenikmatan yang samar-samar masih terasa di bagian bawah tubuhku. Kuamati wajahnya lalu kupeluk lehernya dan kami pun berciuman. Lumat dan lama sekali.




Ada rasa plong ketika aku menuntaskan permainan yang singkat dan cepat tadi. Rasa rindu dan birahi yang selama ini kupendam terasa terobati. Bagaimana pun, laki-laki yang selama ini kupanggil ‘Om’ ini telah merebut hati dan perasaanku. Belum pernah aku jatuh cinta seperti ini, bahkan kepada seorang wanita pun. Di mataku kini, aku tak melihat lagi ia sebagai Om atau Pakdeku. Ia telah menjadi kekasih dan tempatku melampiaskan hasrat kelelakianku.
“Jadi ke Kaliurang-nya?” tanyanya di sela-sela cumbuannya.
“Kan Dede-nya nggak ada..,” sahutku
“Memang Om nggak bisa nganter apa?”
“Emang Om Wi’ mau nganter?”
“Lha, buat apa Om nyuruh Pak No nyuci mobil?” Lanjut baca!

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia

Broker Kripto

Tempo Doeloe

Olahan Makanan

Ulasan Film

Keimanan dan Keyakinan

Top Bisnis Online

Tips dan Trik